August 22, 2011

Hijrah Ramadhan.

Alhamdulillah..selesai sudah semuanya..Urusan perpindahan dari Qrts Klia ke Seremban pada hari sabtu lepas telah berjalan lancar..Mujur hujan lebat turun selepas selesai kerja-kerja menurunkan barang. Mungkin meraikan kepulangan...mungkin...

Setelah 4 hari saya dan adik bertungkus lumus mengemas barang-barang yang maha dahasyat banyaknya. Setelah 4 hari juga kerja ulang alik menunggah barangan kecil di lakukan.Purata 1 hari tiga trip. Terasa  sungguh dugaannya berpuasa..Tercabar dan teruji..Alhamdulillah masih ditetapkan iman.Pada perkiraan saya jika tidak dibantu dengan trip untuk barangan kecil pastinya tak muat lori yang disewa,pastinya 3 trip perlu dilakukan pastinya jugalah kos sewaan bertambah...adoooiiii..

Bunyi seakan tergesa kan berpindah..? Kenapa bulan puasa..? Kenapa tak tunggu lepas raya.. Apa nak buat ini adalah arahan dari putrajaya supaya rumah tersebut diserahkan kunci pada 31hb Ogos..Adaka patot..?Setelah dua kali rayuan untuk menyambung sewaan tidak diterima..maka beginilah kehidupan...pastinya akan ada perubahan.

Hikmah pasti terdapat disebaliknya..Azhar tak lagi keseorangan dirumah..sabri pula bakal menyusul menemani azhar selepas raya.. berulang aliklak masing-masing ke tempat kerja...

Namun...syukurlah...Alhamdulillah..

***Nak mengeluarkan barang..mudah..menyusun semula...adoiii...

August 10, 2011

Wong Fei Hung...?

Once Upon a Time In China.. siapa Wong Fei Hung sebenar?


Selama ini kita hanya mengenal Wong Fei Hung sebagai jagoan Kung fu dalam film Once Upon A Time in China. Dalam film itu, karakter Wong Fei Hung diperankan oleh aktor terkenal Hong Kong, Jet Li. Namun siapakah sebenarnya Wong Fei Hung?

Wong Fei Hung adalah seorang Ulama, Ahli Pengobatan, dan Ahli Beladiri legendaris yang namanya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional China oleh pemerintah China. Namun Pemerintah China sering berupaya mengaburkan jatidiri Wong Fei Hung sebagai seorang muslim demi menjaga supremasi kekuasaan Komunis di China.

Wong Fei-Hung dilahirkan pada tahun 1847 di Kwantung (Guandong) dari keluarga muslim yang taat. Nama Fei pada Wong Fei Hung merupakan dialek Canton untuk menyebut nama Arab, Fais. Sementara Nama Hung juga merupakan dialek Kanton untuk menyebut nama Arab, Hussein. Jadi, bila di-bahasa-arab-kan, namanya ialah Faisal Hussein Wong.



Ayahnya, Wong Kay-Ying adalah seorang Ulama, dan tabib ahli ilmu pengobatan tradisional, serta ahli beladiri tradisional Tiongkok (wushu/kungfu). Ayahnya memiliki sebuah klinik pengobatan bernama Po Chi Lam di Canton (ibukota Guandong). Wong Kay-Ying merupakan seorang ulama yang menguasai ilmu wushu tingkat tinggi. Ketinggian ilmu beladiri Wong Kay-Ying membuatnya dikenal sebagai salah satu dari Sepuluh Macan Kwantung. Posisi Macan Kwantung ini di kemudian hari diwariskannya kepada Wong Fei Hung.




Kombinasi antara pengetahuan ilmu pengobatan tradisional dan teknik beladiri serta ditunjang oleh keluhuran budi pekerti sebagai Muslim membuat keluarga Wong sering turun tangan membantu orang-orang lemah dan tertindas pada masa itu. Karena itulah masyarakat Kwantung sangat menghormati dan mengidolakan Keluarga Wong.

Pasien klinik keluarga Wong yang meminta bantuan pengobatan umumnya berasal dari kalangan miskin yang tidak mampu membayar biaya pengobatan. Walau begitu, Keluarga Wong tetap membantu setiap pasien yang datang dengan sungguh-sungguh. Keluarga Wong tidak pernah pandang bulu dalam membantu, tanpa memedulikan suku, ras, agama, semua dibantu tanpa pamrih.

Secara rahasia, keluarga Wong terlibat aktif dalam gerakan bawah tanah melawan pemerintahan Dinasti Ch’in yang korup dan penindas. Dinasti Ch’in ialah Dinasti yang merubuhkan kekuasaan Dinasti Yuan yang memerintah sebelumnya. Dinasti Yuan ini dikenal sebagai satu-satunya Dinasti Kaisar Cina yang anggota keluarganya banyak yang memeluk agama Islam.

Wong Fei-Hung mulai mengasah bakat beladirinya sejak berguru kepada Luk Ah-Choi yang juga pernah menjadi guru ayahnya. Luk Ah-Choi inilah yang kemudian mengajarinya dasar-dasar jurus Hung Gar yang membuat Fei Hung sukses melahirkan Jurus Tendangan Tanpa Bayangan yang legendaris. Dasar-dasar jurus Hung Gar ditemukan, dikembangkan dan merupakan andalan dari Hung Hei-Kwun, kakak seperguruan Luk Ah-Choi. Hung Hei-Kwun adalah seorang pendekar Shaolin yang lolos dari peristiwa pembakaran dan pembantaian oleh pemerintahan Dinasti Ch’in pada 1734.

Hung Hei-Kwun ini adalah pemimpin pemberontakan bersejarah yang hampir mengalahkan dinasti penjajah Ch’in yang datang dari Manchuria (sekarang kita mengenalnya sebagai Korea). Jika saja pemerintah Ch’in tidak meminta bantuan pasukan-pasukan bersenjata bangsa asing (Rusia, Inggris, Jepang), pemberontakan pimpinan Hung Hei-Kwun itu niscaya akan berhasil mengusir pendudukan Dinasti Ch’in.

Setelah berguru kepada Luk Ah-Choi, Wong Fei-Hung kemudian berguru pada ayahnya sendiri hingga pada awal usia 20-an tahun, ia telah menjadi ahli pengobatan dan beladiri terkemuka. Bahkan ia berhasil mengembangkannya menjadi lebih maju. Kemampuan beladirinya semakin sulit ditandingi ketika ia berhasil membuat jurus baru yang sangat taktis namun efisien yang dinamakan Jurus Cakar Macan dan Jurus Sembilan Pukulan Khusus.

Selain dengan tangan kosong, Wong Fei-Hung juga mahir menggunakan bermacam-macam senjata. Masyarakat Canton pernah menyaksikan langsung dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana ia seorang diri dengan hanya memegang tongkat berhasil menghajar lebih dari 30 orang jagoan pelabuhan berbadan kekar dan kejam di Canton yang mengeroyoknya karena ia membela rakyat miskin yang akan mereka peras.

Dalam kehidupan keluarga, Allah banyak mengujinya dengan berbagai cobaan. Seorang anaknya terbunuh dalam suatu insiden perkelahian dengan mafia Canton. Wong Fei-Hung tiga kali menikah karena istri-istrinya meninggal dalam usia pendek. Setelah istri ketiganya wafat, Wong Fei-Hung memutuskan untuk hidup sendiri sampai kemudian ia bertemu dengan Mok Gwai Lan, seorang perempuan muda yang kebetulan juga ahli beladiri.

Mok Gwai Lan ini kemudian menjadi pasangan hidupnya hingga akhir hayat. Mok Gwai Lan turut mengajar beladiri pada kelas khusus perempuan di perguruan suaminya.

Pada 1924 Wong Fei-Hung meninggal dalam usia 77 tahun. Masyarakat Cina, khususnya di Kwantung dan Canton mengenangnya sebagai pahlawan pembela kaum mustad’afin (tertindas) yang tidak pernah gentar membela kehormatan mereka. Siapapun dan berapapun jumlah orang yang menindas orang miskin, akan dilawannya dengan segenap kekuatan dan keberanian yang dimilikinya.

Wong Fei-Hung wafat dengan meninggalkan nama harum yang membuatnya dikenal sebagai manusia yang hidup mulia, salah satu pilihan hidup yang diberikan Allah kepada seorang muslim selain mati Syahid. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Alah Swt dan semoga segala kebaikannya menjadi teladan bagi kita, generasi muslim yang hidup setelahnya. Amin. 

August 9, 2011

Ramadhan terakhir..

9 Ramadhan 1432H..

Setelah 9 tahun berhijrah..selama itulah juga saya berulang alik dari Seremban ke QRTS KLIA. Bermacam pemandangan, bermacam ragam, pengalaman pahit manis, suka duka..berbagai pula pembangunan yang saya lihat. Kini tibalah masanya sirih pulang ke gagang..

Ramadhan kali ini adalah yang terakhir disambut disana. Kami sekeluarga bakal berpindah ke Seremban pada 20 Ogos ini..Syukur ya Allah..Alhamdulillah rasanya rumah itu tidak kosong lagi..Bakal dihuni oleh adik saya Sabri dan Azhar..Syawal bakal disambut oleh "kami" di Taman Bukti..

Bagaimana sedih dan pilunya hati saya ketika berpindah dari Taman Bukti ke Panchur Jaya, sama juga perasaan itu kini kerana disana menyingkap pelbagai kisah suka duka kami sekeluarga. Di sanalah juga Bonda Hazizah menghembuskan nafas yang terakhir.

Persiapan sedang dibuat.Acara bungkus-membungkus.Banyak sungguh barang.Saya pun sudah lupa masa arwah mak dan ayah mula-mula pindah disana. Tak silap barang-barang diangkut beransur.. Akhirnya lengkap seisi rumah. Nampaknya kali ini mungkin selori besar..Tiada maklumat tentang itu.

Segalanya berubah kini...Tak sama masa mak ada..Yang tak pernah berubah adalah perasaan saya..cuma syukurlah rumah itu bakal dihuni.. Syukurlah.